Renungan Hari Ini : "Peperangan yang Sebenarnya"
Perlawanan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat sudah menjadi keyakinan dari berbagai agama kuno. Peperangan itu dianggap dilakukan oleh dua kekuatan yang saling bersaing dan menghancurkan. Ada yang berkeyakinan bahwa dari pertempuran tersebut, kebaikan akan keluar menjadi pemenang dan sebagian berpendapat bahwa tidak ada kekuatan yang menang atau kalah. Peperangan terjadi terus-menerus demikian. Banyak orang Kristen melihat peperangan rohani yang dialami orang Kristen terjadi demikian. Seolah-olah Allah dan iblis menjadi dua pihak yang berseteru tanpa henti, saling menghancurkan dan bersaing. Ketika Paulus mengangkat isu tentang peperangan rohani, dia memiliki pengertian yang sangat berbeda dengan pandangan di atas. Sebab kemenangan ada di pihak Allah, Allah berotoritas atas iblis, dan Kristus sudah mematahkan sengat maut iblis.
Dalam kehidupan beriman orang percaya, peperangan rohani dianggap sederhana. Peperangan rohani seolah-olah hanya sebagai peperangan antara Allah dan iblis, di mana orang Kristen hanya menikmati kemenangan Allah dengan tanpa berperan apa-apa. Perlengkapan senjata Allah juga sering dipandang sebagai slogan kosong dan asesoris hidup spiritual Kristen. Bahkan sebagai sekedar ayat emas indah tanpa hasrat menghidupinya dalam iman yang sesungguhnya. Melalui nasehat Paulus, orang Kristen justru harus menyadarkan diri bahwa peperangan rohani telah menjadi bagian dari panggilan dan konsekuensi karya Kristus yang sudah diterima setiap orang percaya.
Paulus menjelaskan dalam ayat 11 tentang bagaimana orang percaya kuat di dalam Tuhan, yaitu dengan mengenakan perlengkapan senjata Allah. Gambaran ini diyakini dikutip Paulus dari Yesaya 11:4-5 dan 5:16-19 yang menjelaskan bahwa Allah akan membela umat-Nya dengan mengenakan perlengkapan senjata perang-Nya. Konsep tentang senjata Allah ini juga Paulus nyatakan dalam 1 Tesalonika 5:8 supaya orang percaya senantiasa sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan.
Tujuan memakai senjata yang disediakan Allah adalah bertahan melawan siasat licik Iblis. Kata ‘bertahan’ ini memiliki penekanan yang signifikan karena muncul dalam ayat 11, 13 dan 14 yang memakai akar kata sama untuk menekankan nasehat supaya kuat di dalam Tuhan dengan berdiri teguh atau bertahan, khususnya dari serangan secara konstan dan berakibat sangat buruk dari Iblis. Jadi berdiri teguh berarti bertahan sampai akhir dan menang.
Keseriusan alasan dari nasehat mengenakan senjata Allah tersebut karena musuh utama dalam peperangan rohani ini adalah Iblis yang bukan terdiri dari darah dan daging (ay. 12)
Berjaga-jaga dan berdoa (18-20)Dalam perikop ini, Paulus menyatakan bahwa fokus kebutuhan dalam peperangan rohani di sini adalah berdoa setiap waktu dan berjaga-jaga dengan ketekunan dan permohonan. Istilah ‘berdoalah setiap waktu dalam Roh’ sama sekali bukan merujuk pada berdoa selalu dengan menggunakan bahasa Roh. Ini lebih berarti pada suatu konsistensi tindakan berdoa dan memohon kepada Allah sesuai pimpinan atau pertolongan Roh Kudus. Sikap konsisten ini juga nampak dalam pernyataan ‘berjaga-jaga di dalam doamu itu dengan permohonan yang tidak putus-putusnya’. Kata secara harfia ‘berjaga-jaga’ berarti ‘tetap bangunlah’, dimana ini juga berarti waspada. Sedangkan makna istilah ‘permohonan yang tak putus-putusnya’ secara harfiah diterjemahkan ‘dalam setiap kegigihan dan permohonan’. Kata ’tak putus-putus’ di sini berarti ‘tanpa menyerah atau berhenti’. Ini adalah kebutuhan penting dalam melaksanakan peperangan rohani yaitu dengan berdoa senantiasa, sebab pertahanan terkuat bagi orang beriman adalah doa.
Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis;
~Efesus 6:11~


Komentar
Posting Komentar